Longline Afternoon Delight

Posted by on Monday, September 1, 2014

(Aku) Akan mencari kekasihku, akan memegang erat-erat.
(Aku) Akan merengkuh beberapa sore menyenangkan. 
Moto saya selalu 'ketika itu benar, maka itu benar'. 
Mengapa harus menunggu sampai tengah malam yang gelap dan dingin? 
Ketika semuanya sedikit lebih jelas dalam cahaya hari.
Dan kita tahu malam selalu akan berada di sana dengan cara apapun.
...


Longline. Menyisakan sedikit tali Blue Wing 50 meterku. 

Jumat 20 Juni 2014. Masih ingat kalau aku pernah bercerita saat mencoba lintasan di dekat area parkir Pantai Siung? Buka kembali ingatanmu di sini.

Kembali pada bait-bait lagu di atas yang aku sarikan dari lirik lagu yang berjudul Afternoon Delight. Lagu itu dinyanyikan oleh band band pop Amerika tahun 70an yang bernama starland Vocal Band. Lagu itu bernuansa country pop dengan sedikit unsur folk rock dan soft dengan tempo yang sedikit lambat ukuran rock. Khas tahun 70an.

Saya rasa saya tidak perlu meneruskan bait-bait lirik lagu tersebut. Di beberapa bait, lirik itu sedikit menjurus ke arah "sexually". Ya, lagu itu memang secara implisit merupakan permainan kata dari Bill Danoff, si pencipta lagu yang menceritakan bahwa kita tidak perlu menunggu hingga malam untuk, ehm, berhubungan sexual. 

Oke, aku banyak mendengarkan lagu-lagu tahun 70an. Tetapi aku lebih merunut pada akar musik kontemporer, sedikit experimental, dan avantgarde pada jaman itu. Terutama dari skena cold wave seperti dreampop, gothic, dan embrio musik post-punk. Sebut saja Cocteau Twins, Siouxsie and The Banshee, Slowdive, This Mortal Coil, Xmal Deutchsland, atau musisi lain.

Saya tidak terlalu familiar dengan musik mainstrain pada jaman itu kecuali secuil lagu-lagu evergreen yang sering orang tua saya dengarkan di masa kecilku. Dan Afternoon Delight tidak termasuk dalam deretan itu. Lalu apa hubungannya dengan lagu yang cukup mesum di jamannya itu?

Sebelumnya aku pun sama sekali tidak mengetahui tentang lagu itu. Belakangan aku browsing, dan seperti dugaanku, hal-hal bertema seksualitas dalam seni pasti selalu mengundang kontroversi. Tidak terkecuali dengan lagu yang satu ini. 
Work hard.

Lagu ini konon pernah menempati Top 10 dalam tangga lagu Billboard. Pada Grammy Awards ke-19 tahun 1977, lagu ini mendapat tiga nominasi, bahkan 2010 lalu Billboard menobatkannya sebagai urutan ke-20 lagu terseksi sepanjang masa. Serta beberapa penghargaan lain. Di sisi lain, kontroversi juga terus berlanjut hingga tahun 2010 yang diprotes bahwa lagu bertema seksual yang dikonsumsi massa itu "menakutkan".

Bagaimana aku bisa tahu? Karena aku membuka Wikipedia. Oke, yang terkahir ini tidak penting. Lupakan.

Lalu kamu pasti bertanya apa yang menjadi poin dari lagu itu? Jadi begini. Hari itu, untuk ketiga kalinya aku memasang line di dekat area parkir Pantai Siung Jogjakarta. Di sebelah barat kami tambatkan pada tebing karang yang berbatasan dengan blok A Pantai Siung. Letaknya persis menghadap Kedai Panjat Moro Seneng milik Mbah Wasto. Sedangkan sebelah timur kami tambatkan pada salah satu pohon cemara. 

Lintasan ini cukup panjang, bentangannya hampir lima puluh meter, dengan tinggi anchor karang sekitar 5-6 meter, sedangkan anchor pada pohon lebih dari dua meter. Mungkin lintasan ini lebih cenderung tergolong sebagai midline.
Extra shag.

Tantangannya adalah lokasinya yang langsung menghadap laut lepas membuat hempasan angin terasa sangt kuat. Selain itu, setelah melewati garis pantai yang curam, ketinggian lintasan langsung turun dari dua meter menjadi sekitar tiga meteran. Dan terus turun hingga lima meter saat mencapai tebing karang. Bagi sebagian orang, ini bakal membawa pengaruh psikologis juga.

Hari itu aku bersama beberapa anggota Pushing Panda Bandung. Mang Dadeng, Iding, Fikri, dan Viki. Bersama kami juga seorang slacker Belanda berkebangsaan Australia dengan nama Facebook David Wanderlust, pacarnya Tamar, dan pacarku Dika. Tentang bagaimana David bisa sampai ke Jogjakarta, akan aku ceritakan pada artikel berikutnya.

Kembali pada lintasan ini, aku dan sebagian anggota Freeslack Crew Solo yang telah mencoba lintasan ini -dan sayangnya selalu gagal- membuat semacam sayembara. Bagi yang dapat menamatkan lintasan ini berhak memberi lintasan ini nama sesuai keinginannya. 

Dan hingga hari itu hanya David yang berhasil menamatkannya. Bahkan ia langsung meng-onsight lintasan itu. David membuat lintasan itu tampak sangat mudah ditaklukkan. Dia menamatkan dua lap pulang-pergi di atas lintasan tanpa sekalipun jatuh. Ia bahkan sempat memperagakan gaya eksposure turn dan casual walk di atas tali. Trick statis dan cara berjalannya tampak sangat berbeda dengan style slacker di Indonesia. 
Exposure turn.

Kami cukup heran melihatnya. Jujur awalnya kami sedikit under estimate dengan skillnya. Melihat proporsi badannya yang gempal dan cenderung gemuk. Tak tampak sedikit pun perawakan atlet atau olahragawan. Tetapi gerakannya yang tenang dan kokoh, serta fokus yang ditunjukkannya tampak dia bukan pemain baru.
2 lap. 2 way ticket.

Di sela-sela obrolan kami, aku cukup tercengang pola latihannya. Setidaknya enam puluh hingga seratus meter lintasan menjadi lintasan latihan endurance-nya di negara asalnya. Setiap weekend selama lebih dari dua tahun sejak pertama kali ia mengenal slakcline. Tak hanya itu, ia selalu berlatih dengan tali yang lebih kendur. Itulah pelajaran yang pertama aku dapat dari David.

Sore semakin temaram. Aku, Iding, dan Dadeng masih belum menamatkan lintasan dan pada satu titik, akhirnya kami menyerah. Sesuai kesepakatan, David akhirnya memilih nama Afternoon Delight sebagai nama lintasan itu. "Bukan hal yang penting, itu hanya lagu yang aku suka. Menceritakan jika kita ingin bercinta, kenapa harus menunggu malam," ujarnya yang membuatku tertawa spontan.
Iding on the line.

Entah itu suatu kesengajaan atau bukan, tapi memang tampaknya kontroversi lagu itu sesuai dengan kontroversi tentang lintasan ini. Secara sederhana, penamaan lintasan itu memang menjadi pertentangan juga di dalam kepalaku. 

Bagaimana tidak? Ada dua alasan yang mendasarinya. Pertama, aku belum pernah mendengar ada lintasan longline yang diberi nama. Kecuali untuk lintasan long-highline. Dan penamaan untuk lintasan highline pun umumnya hanya diberikan untuk lintasan pada obyek/lokasi yang bukan lokasi artifisial atau konstruksi buatan manusia. Hingga hari ini, jarang sekali aku mendengar ada lintasan yang tergolong sebagai urban highline yang diberi nama lintasan. Walaupun aku pernah mendengar lintasan highline di antara dua bangunan, seperti yang terdapat pada lintasan yang digunakan di urban Highline Festival Lublin, Polandia. Hal ini merujuk pada etika penamaan rute dalam panjat tebing.

Kedua, salah satu anchor yang digunakan dalam lintasan Afternoon Delight adalah pohon. Kita tidak akan pernah tahu kapan pohon itu mati dimakan usia, atau bahkan lebih ekstrimnya ditebang. Artinya kita tidak memiliki jaminan hingga kapan lintasan itu akan tetap ada.
Dadeng on the line.

Aku pribadi sadar bahwa hal ini berpotensi membawa kontroversi pada suatu hari. Tetapi tentu saja, penamaan ini pun memiliki manfaat tersendiri bagi kemaslahatan para slacker di masa mendatang. Lintasan di Pantai Siung kian hari kian bertambah. Akankah lebih baik jika dari sekarang dimulai inventarisir mengenai lintasan yang memungkinkan untuk aktifitas slackline.
Me on the line.

Seperti esensi dalam lagu itu, untuk apa menunggu malam jika kita bercinta sekarang. Karena terang membuatnya semakin jelas. Karena malam akan tetap menunggu di sana dengan caranya. Untuk pada menunggu hingga masalah datang jika bisa kita mengantisipasinya sekarang. Karena penamaan akan membuatnya semakin jelas. Karena masalah mengenai potensi ambiguitas lintasan akan tetap ada.

Dan ini semua bukan tentang sekedar etika, sikap, tetapi juga tentang makna. Dan tentu saja tujuan itu sendiri.
That's why we called it After Delight.

*Pagi berikutnya aku mendengar Iding menamatkan lintasan ini. Sayangnya aku yang dari Jogja terlambat datang untuk mengabadikan moment tersebut.

Foto oleh Isro Adi & Dika Rimbawati.

Leave a Reply