Canyoning Curug Macan

Posted by on Tuesday, October 21, 2014


Seringkali kita lupa dengan kampung halaman kita. Walaupun seharusnya sudah menjadi kewajiban kita untuk lebih memprioritaskan dan memberikan peran bagi kampung halaman.



Selasa, 30 September 2014. Laptop yang aku gunakan untuk mengedit foto ber-resolusi besar beberapa kali mati. Maklum, laptopku produksi tahun 2007 walaupun sebenarnya cukup bandel untuk ukuran laptop buatan tahun itu. Membuatku cukup malas untuk mengerjakan kerjaanku hari itu. Bersamaan dengan itu, seorang teman lama yang aku kenal melalui Couchsurfing.org mengirimiku pesan bahwa ia berada di Purbalingga dan akan "surfing" di tempatku. Surfing adalah istilah yang digunakan oleh member Couchsurfing untuk menumpang di rumah anggota CS lainnya. 

Karena kebetulan aku berada di rumah, maka aku memiliki tanggungjawab menjadi host (tuan rumah). Sebenarnya bisa saja aku menolak untuk menjadi host jika aku sedang tidak bisa, karena memang bukan suatu kewajiban bagi anggota CS untuk menjadi host. Semuanya bersifat sukarela dan atas dasar kesadaran sendiri.
Terlebih hari itu aku sedang sangat bosan hari itu. Maka sekalian ia aku ajak mengeksplor kota kelahiran sekaligus rumah orang tuaku. Sebelumnya aku pernah menjadi host untuknya saat aku masih ngekost di Purwokerto. Aku tahu bahwa temanku Lingga, cukup easy going jika aku ajak ke tempat-tempat yang tak lazim. Maksudnya ke alam bebas dengan medan yang tidak seperti umumnya.

Aku tidak pernah memilih surfer yang akan surfing di tempatku, hanya saja aku selalu mengatakan bahwa aku bukan type party-goers. Aku akan lebih senang untuk mengantarkan mereka ke alam terbuka atau bahkan melakukan hal-hal ekstrim sekalipun. Aku tidak menampik jika tidak sedikit anggota CS Indonesia yang "picky" karena lebih mengutamakan surfer asing. Tak sedikit juga yang lebih memilih mengajak surfer mereka untuk hangout ke nightlife di kota mereka. Itu sebabnya sekarang saya lebih suka berhubungan dengan anggota CS lain secara personal dan mengurangi gathering komunitas.

Jujur aku sedikit agak kebingungan setiap ditanya lokasi wisata yang layak dikunjungi di kotaku. Aku cukup mengenal baik Purbalingga dan potensinya. Sekitar dua tahun lalu, ada sebuah film dokumenter karya sineas lokal yang mulai mengkampanyekan mengenai potensi air terjun di sekitaran Purbalingga. Film dokumenter itu bertajuk Purbalingga, Kota Seribu Curug. Hanya saja, curug-curug itu tak berada di pusat kota. Selain itu, tak sedikit dari curug tersebut yang dapat diakses melalui fasilitas yang memadai.

Maka Let's get lost. Kamipun berkendara menuju pinggiran timur kota Purbalingga. Ada beberapa lokasi yang kami kunjungi mulai dari Monumen Jenderal Soedirman, Curug Karang, menyusuri perbukitan Serayu Utara, menembus jalur Pelosok Desa Rembang hingga Karangjambu, dan terakhir mengunjungi Pos Pendakian Gunung Slamet walaupun jalur itu sedang ditutup untuk aktifitas mendaki gunung.
 Awalnya aku tidak ada rencana untuk mendata curug-curug itu. Tetapi dimulai dari Curug Karang, orientasi canyoningku mendadak muncul. Berlanjut membayangkan hal-hal yang secara teknis bisa aku lakukan. Mulai dari memasang anchor, spot rapelling, peralatan yang mungkin digunakan, kendala teknis dan resiko yang mungkin terjadi. Seruntutan bayangan itu muncul secara otomatis di dalam kepalaku.

Tidak hanya di Curug Karang, imajinasiku muncul secara otomatis setiapkali melintasi sungai dan curug-curug kecil di sepanjang jalur perbukitan Serayu Utara. Mengkalkulasi debit air, penampang sungai, kontur dan struktur batuan, lalu mempekirakan potensi yang ada di bagian hulu hingga ke hilir. Jadilah trip itu sekaligus mapping potensi canyoning di Purbalingga.

Sudah cukup lama memang aku ingin mengeksplor kota ini. Aku sering menganalisa peta topografi Purbalingga dan membandingkannya dengan Banyumas Utara yang secara geografis terdapat kemiripan dan mungkin juga potensi canyoning yang sama. Hasil dari trip itu, aku menemukan beberapa spot yang tampak layak untuk dicoba. Dan yang paling menarik bagiku adalah salah satu aliran sungai kecil di antara hutan pinus dekat desa Menganti Kecamatan Tunjungmuli.



Dari kejauhan tampak air terjun bersusun lima. Dengan jarak pandangku, aku memperkirakan tingginya mulai dari enam meter hingga delapan belas meter. Di antara aliran sungai itu, bisa jadi terdapat riam-riam atau mungkin kolam alami yang oleh masyarakat Jawa dikenal dengan istilah kedung. 
Aku cukup lama memandangi gugusan curug itu, sedikit ormed (orientasi medan), dan menganalisa karakter aliran sungai itu. Secara sekilas tampak bahwa air terjun itu berada di tengah perbukitan tandus. Kemungkinan struktur batuannya adalah brexi atau andesit. Melihat dari airnya yang cukup jernih, maka kemungkinan besar adalah andesit. Ketersediaan pohon atau batuan sebagai anchor tampaknya memungkinan kami untuk rappelling menggunakan releashable rope. 

Karena berada di ruang terbuka, tampaknya air tidak begitu dingin, dan hanya sedikit kemungkinan terdapat pacet (lintah). Dari debit airnya yang berbeda secara signifikan antara bagian teratas curug dengan bagian bawahnya, kemungkinan sumber mata air pun tak jauh dari situ. Terakhir, untuk mencapai lokasi entry point -yang secara jelas adalah curug di tingkat paling atas- kemungkinan rute yang paling efektif adalah melalui desa terdekat, kemudian berjalan melalui hutan pinus melewati puncak bukit. Dengan dibantu dua atau tiga orang tampaknya penelusuran dapat selesai dalam lima atau enam jam, tidak termasuk perjalanan menuju lokasi entry point. 

Otakku berpikir cepat dan ah, hampir setengah rencana ekspedisi pembukaan jalur canyoning ini selesai di dalam otakku. Rasanya tak sabar untuk segera mengaplikasikan rencanku. 

***

Jumat, 3 Oktober 2014. Entah bagaimana rencana canyoning itu terlaksana, padahal semuanya serba mendadak. Dua hari sebelumnya, seorang adik angkatanku di organisasi pecinta alam SMA-ku dulu berkunjung ke rumah. Aku menceritakan rencana untuk mensurvey lokasi canyoning yang tampak menarik bagiku. Temanku Fahmi, segera membantuku mengatur semua kebutuhan. Maka, hari itu juga kami langsung berkoordinasi dan menyiapkan alat. Di Purbalingga, ada sebuah sekretariat bersama bagi beberapa organisasi pegiat alam bebas yang kami sebut dengan istilah "markas". Lewat markas, tidak sulit bagi kami untuk mencari orang yang bersedia bergabung untuk ekspedisi kecil-kecilan kami. Personel, peralatan, dan jadwal melengkapi rencana ekspedisi kami.

***


Minggu, 5 Oktober 2014. Semua berjalan sesuai rencana, bahkan rencana untuk berangkat menuju lokasi pukul lima pagi. Hanya saja, salah satu anak membawa kunci ruangan markas tempat kami menyimpan peralatan. Terpaksa jadwal kami tertunda dua jam. 

Pukul tujuh pagi kami mulai berangkat menuju lokasi yang memakan waktu hampir satu jam. Mampir di warung kecil untuk sarapan dan membawa logistik, lalu melanjutkan perjalanan kami. Setelaha menunjukkan lokasi medan yang akan kami hadapi, kami bergegas mencari jalan untuk mencapai Desa terdekat dengan entry point. Namanya Desa Cikal, salah satu desa tertinggi di areal perbukitan itu. Tampaknya jalan tidak memungkinkan untuk kami tempuh dengan motor, kalaupun bisa, waktu kami akan habis untuk menjangkau Desa Cikal. 

Rencanapun berubah. Kami menitipkan motor di salah satu warung dekat pos BKPH di pinggir jalan, lalu kami menyusuri Sungai Tambra yang menjadi hilir dari aliran curug. Dari warung itu juga kami mengetahui nama gugusan curug itu adalah Curug Macan. Ada lima curug yang terdapat dalam gugusan itu. 
Sekitar sepuluh menit kami menyusuri Kali Tambra, maka kami sampai pada sebuah curug yang menjulang ke atas. Kami cukup yakin bahwa itu adalah susunan terbawah dari Curug Macan. Curug ini lebih tinggi dari perkiraanku. Sekitar empat puluh meter. Walaupun debit air yang mengalir lebih kecil dari yang aku kira. Tetapi tampaknya kami akan bersenang-senang.

Perjuangan baru dimulai saat kami menanjaki punggungan bukit untuk sampai ke curug teratas. Seorang petani yang kami temui mengatakan bahwa masing-masing curug memiliki namanya masing-masing. Seperti Curug Blengong, Curug Gong, Curug Suwung, dan dua lainnya aku lupa. Hampir satu jam ebrjalan menanjak dan akhirnya kami sampai di curug pertama yang menjadi entry point.

Kami memutuskan untuk langsung rapelling di curug kedua karena curug pertama hanya setinggi enam meter. Mungkin sedikit under estimate, tetapi menuruni air terjun setinggi enam meter tampaknya hanya buang-buang waktu. Curug setinggi empat puluh meter masih menunggu kami.

Curug kedua setinggi sekitar delapan belas meter berhasil kami turuni. Kami menggunakan pohon sebagai anchor dan menggunakan releashable rope dengan lancar, sehingga kami tidak meninggalkan apapun kecuali jejak. Seperti dalam kode etik pecinta alam yang kami anut.Haha.


Curug ketiga yang oleh amsyarakat setempat dinamai Curug Gong ini tampak menarik. Ada sebuah cerukan kecil yang konon katanya sering digunakan orang untuk bertapa. Kami tidak begitu menghiraukan cerita semacam itu, kami hanya fokus kepada masalah teknis dan safety. Sisanya bersenang-senang.

Pukul setengah dua siang kami semua telah berada di bagian dasar Curug Gong. Kami beristirahat, leyeh-leyeh dan makan siang dengan logistik yang kami bawa. Tidak ada yang kurang kecuali kopi panas. Selain itu, ternyata kami hanya membawa sebotol minuman soda untuk minum. Jadilah kami meminum air langsung dari aliran sungai.

Di luar perkiraanku juga, selain debit airnya yang cukup kecil, pada bagian dasar curug tidak terdapat kolam. Terpaksa kami mengurungkan niat untuk berenang. Tetapi kami cukup puas rappelling.

Di curug keempat kami menghadapi tantangan lain. Curug keempat dan curug Suwung, curug terakhir lebih tampak seperti satu aliran curug yang terpisah oleh sebuah kolah kecil di tengahnya. Bagiku, itu tampak seperti sebuah air terjun double pitch karena aku tidak menemukan anchor yang dapat digunakan untuk menuruni Curug Suwung. Tentu saja dengan total ketinggian yang hampir mencapai delapan puluh meter, tali menjadi kendala. 
Kami membawa dua tali sepuluh milimeter dan dua tali delapan setengah milimeter. Keempatnya sepanjang lima puluh meter. Kami bisa saja menyambungnya menjadi dua ratus meter, tetapi itu tidak memungkinkan bagi kami untuk menggunakan teknik releashable rope. Harus ada seseorang yang meng-cleaning alat dan menuruni lewat punggungan bukit, kecuali kami mau meninggalkan satu buat webbing. Tapi tampaknya kami lebih memilih untuk pulang melewati jalur lain.

Kami cukup puas menuruni dua air terjun hari itu, walaupun mungkin akan lebih puas jika kami berhasil menuruni kelima air terjun. Satu pe er tersisa untuk kembali menyusuri rute itu dengan membawa bor dan memasang hanger. Ya, kami akan datang lagi suatu hari. Tentunya dengan perlatan yang lebih lengkap.

Ngomong-ngomong, seorang rekan wartawan yang memfollowku di sosial media mengetahui aktifitasku, kemudian mewawancarai kami dan muncullah kami di media lokal.


Leave a Reply