Probolinggo Slackline Part 1

Posted by on Tuesday, October 14, 2014



Slackline di Indonesia memang masih dalam perkembangan menemukan bentuknya. Melalui event ini aku melihat salah satu bentuk bagaimana slackline dapat bersinergi dengan instansi formal.





Senin, 22 September 2014. Setelah tiga belas jam, bus malam membawaku dan Jalom sampai di Surabaya. Tetapi di Surabaya kami hanya sekedar transit. Kami bergegas menuju bus berikutnya yang membawa kami menuju Probolinggo, tujuan kami. Total lima belas jam perjalanan kami tempuh hingga akhirnya kami sampai di Terminal Probolinggo. Aku sering mendengar kota ini dari teman-temanku yang telah mendaki Semeru. Kali ini aku menginjakkan kaki sendiri di kota ini.

Aku mengirim pesan kepada temanku yang akan menjemputku. Namanya Andika Hadiwinata. Aku mengenalnya lewat slackline, walaupun belum pernah sekalipun bertemu dengannya. Sekitar pertengahan tahun, dia mulai mention twitterku. Kami bertukar nomor hp, lalu berbincang mengenai perkembangan slackline. Yang aku tahu dia seorang pelatih panjat tebing. Dia mengenal slackline saat pelatihan FPTI Pengda Jatim di Surabaya. Pemanjat senior bernama Ronald Mamarimbing mengajarinya slackline. Tentang Ronald ini pun aku belum pernah bertemu, aku hanya mendengar namanya dari Yusak Yulius sesama pemanjat.

Seseorang dengan akun twitter @ndics pun datang dan menjemput kami. Kami mampir di sebuah warung makan yang melayani dengan dialek Madura. Aku cukup mengerti dan bisa berbahasa Sunda, Jawa Timuran, dialek Solo-Jogja, tetapi dialek Madura terdengar benar-benar asing bagiku. Bahkan bahasa Bali lebih terdengar familiar di telingaku. 

Gelanggang Olahraga (GOR) Mastrip menjadi venue utama yang kami tuju. Ya, tujuan kami ke sini adalah menjadi undangan untuk mengisi slackline sekaligus coaching clinic dalam rangkaian penutupan Pekan Olahraga Kota (Perkota) Probolinggo. Beberapa hari sebelumnya Andika memang memintaku untuk ikut menghadiri event itu. 

Beberapa orang yang tampaknya staf pemerintahan menyambut kami dengan ramah. Begitu pula remaja-remaja berkaos FPTI yang dengan segera mendatangi dan bersalaman dengan kami. Tampaknya FPTI Probolinggo memiliki regenerasi atlet yang bagus. Hal ini tampak dari banyaknya pegiat panjat tebing muda yang antusias saat ada acara semacam ini. 

Aku melihat sekeliling GOR mastrip yang memiliki interior bangunan yang mirip GOR Satria Purwokerto. Lengkap dengan cat berwarna biru muda dan letak pintu-pintu menuju tribunnya. Dan lintasan tali Rooky Elephant Slacklines hijau tepat berada di tengah lapangan. Lintasan itu ditambatkan pada tiang besi pendek yang ditanam ke lubang untuk net bola voli atau badminton.

Jujur aku tidak begitu yakin dengan konstuksi ini. "Tenang saja, aku sudah menambah keadalamannya menjadi sekitar empat puluh lima sentimeter", ujar Andika meyakinkan. Tetap saja dalam hati aku merasa was-was dengan besi dari lubang berdiamater sekitar lima belas sentimeter. Beban tarikan yang mencapai beberapa kilonewton bisa saja mencabut besi itu keluar dan membongkar beton di sekitarnya.

Namun tampaknya konstruksi itu sudah teruji, terbukti dari anak-anak yang dari tadi berjalan dan melompat di atas tali. Oke, aku mulai yakin dengan konstruksi itu walaupun kecil kemungkinan ratchet akan terlempar jika konstruksi itu hancur. Di beberapa kasus memang anchor dan konstruksi yang gagal menyebabkan ratchet terlepas, melayang, dan menghantam slacker hingga menyebabkan cedera serius. 

Sebenarnya cukup canggung juga untuk mulai mencoba lintasan. Sesaat kemudian aku menunjukkan sedikit trick combo, bukan untuk show off atau menurunkan mental slacker yang berada di atas tali. Aku hanya mencoba memberitahu mereka bahwa setidaknya aku akan berusaha semaksimal mungkin di event ini disamping menambah rasa percaya diriku.

Aku mengamati sekeliling bangunan GOR ini. Kami berencana mengeset rigging di ketinggian juga. Tak lama hingga akhirnya kami menemukan lokasi yang tepat. Artikel mengenai highlining ini akan aku ceritakan di artikel berikutnya.

***

Sekitar pukul lima sore kami berhasil mengeset lintasan highline. Berikutnya adalah jadwal gladi bersih dengan semua performer lain. Rencananya, besok pagi slackline akan menjadi pembuka acara bersama break dance dan parkour. Seorang staf pemerintahan menjadi koreografer sekaligus yang mengatur rundown acara. 

Kami harus berkoordinasi dengan tim parkour yang besok berada satu venue dan satu waktu dengan kami. Sedangkan kami pun harus berkoordinasi dengan tim untuk menyiapkan penampil slackline dan pembagian tugas. Besok, kami hanya mendapat waktu kurang dari sepuluh menit sepanjang durasi musik dubstep skrilex yang akan menjadi backsound pertunjukkan kami. Kemudian kami harus dengan cepat melepas semua rigging, lalu aku dan Jalom harus langsung rigging highline. Menunggu break dance yang tampil, kemudian kembali tampil di ketinggian. Semua rencana telah diatur dengan rapi. 

Sembari gladi bersih dan beberapa kali bongkar pasang rigging trickline untuk memberi kesempatan penampil lain yang berlatih, aku dan Jalom mengajari beberapa trick sederhana. Slacker yang umumnya merupakan anggota FPTI Probolinggo ini memang belum masih baru berkenalan dengan slackline beberapa minggu. Kebanyakan dari mereka masih belajar berjalan.

Menjelang pukul sebelas malam semua set telah rapi terpasang. Begitu juga dengan tim parkour yang berhasil memasang beberapa matras dan bar yang telah diletakkan sedemikian rupa sebagai arena bermain mereka. Lintasan slackline berada di tengah membagi dua venue mereka. Di sela-sela musik dari tim drum band yang masih mendapat pengarahan dari mentor. Raut kelelahan tampak dari wajah mereka. Namun demikian, aku melihat kerjasama yang bagus dan suasana nyaman selama sehari ini. Pun sedikit rasa kekeluargaan walaupun ini adalah persiapan sebuah perhelatan formal. 

Menjelang pukul satu malam aku merasakan badanku terasa sangat lengket. Mandi hanyalah hal yang aku pikirkan sekarang. Aku, Jalom, dan Andika segera menuju ruang transit atlet yang masih berada di dalam GOR Mastrip. Begitu pula dengan tim parkour. Walaupun ruangan kami bersebelahan, namun rasa lelah membuat kami tidak sempat berbincang satu sama lain.

Di dalam ruangan, sebuah kursi panjang dan tiga lembar matras senam menjadi ruangan yang cukup nyaman, kecuali angin Kota Probolinggo yang kencang merasuk melalui ventilasi ruangan. Aku menutupi kakiku dengan kemeja flanelku dan sedikit merasa euforia dengan pengalaman pertamaku menginap di mess layaknya atlet, dalam konteks sesungguhnya.

***

Selasa, 23 September 2014. Pukul lima pagi aku terbangun oleh soundman yang sedang melakukan pengecekan akhir. Tetapi aku masih belum mau beranjak hingga setengah jam berikutnya. Aku mandi dan sesaat kemudian bergegas mengecek semua persiapan yang diperlukan. Sementara itu, peserta dan audience semakin ramai berdatangan.

Pukul tujuh pagi kami telah bersiap di ruang transit. Masih ada waktu lima belas menit untuk meulai pembukaan dan kami akan tampil sekitar pukul setengah delapan. Jika semuanya berjalan sesuai rencana.

MC memanggil kami dan acara dimulai tanpa ada keterlambatan. Kami menuju sisi utara dan selatan dekat dengan ujung lintasan tali. Kami memberi penghormatan kepada tamu dengan membungkukkan badan dilanjutkan melambaikan tangan. Sedangkan tim parkour berlari berkeliling lapangan. Di tribun kehormatan, tampak pejabat-pejabat pemerintahan, bupati, dan walikota Probolinggo.

Musik dubstep menggema ke seluruh ruangan dan kamipun memulai penmpilan kami. Diawali dengan anggota FPTI Probolinggo yang berjalan di atas tali, dilanjutkan dengan trick statis oleh Andika dan Jalom, aku menjadi klimaks dengan mempertunjukkan sedikit trick statis dipadu gerakan combo. 

Lintasaan kurang dari lima belas meter dengan tali yang tidak begitu lentur memang menjadi "tantangan tersendiri" untuk melakukan trick combo lanjutan. Di samping itu, ribuan pasang mata yang memadati tribun GOR Mastrip sedikit membuat demam panggung. Aku belum pernah slacklining di hadapan orang sebanyak ini. Ditambah beat musik dubstep dan aku harus berkejaran dengan musik itu. Aku menjadi gugup, bahkan untuk hand lever saja aku harus jatuh di atas matras. 

Aku sedikit membayangkan jika nanti aku di atas lintasan highline. Tetapi itu biarlah aku hadapi nanti. Tak terasa sekitar lima belas menit selesai. Audience yang hadir tampak terpukau dengan olahraga yang memang masih belum umum di mata mereka. Hal ini tampak dari tepuk tangan riuh mereka walaupun sebenarnya trickline yang kami tunjukkan tidaklah begitu rapi. 


***

Kami menghabiskan siang hari dengan berjalan-jalan di sekitaran Dermaga Probolinggo. Mencari spot yang memungkinkan untuk waterlining. Sisanya, kami menghabiskan siang dengan berbincang-bincang di GOr Mastrip sembari menunggu coaching clinic sore ini. 

GOR Masrtip telah sepi menyisakan kami. Rasanya sangat menyenangkan menguasai stadion yang menjadi tempat bermain kami. Rangka yang kokoh melengkung tampak seperti hangar pesawat. 

Pukul tiga sore peserta coaching clinic mulai berdatangan. Sebagian dari mereka datang dari kalangan pecinta alam SMA-SMA di sekitaran Probolinggo. Awalnya aku mengira mereka adalah paskibra yang datang untuk berlatih. Ternyata mereka datang untuk mencoba slackline.




Aku dan Andika memberi sedikit pengarahan awal tentang salckline, kemdian mereka berlataih dengan anggota FPTI Probolinggo yang lain. Sebagian dari mereka tampak antusias saat aku memberikan pengarahan mengenai slackline. Dengan jumlah peserta yang banyak, nampaknya aku sedikit menaruh harapan pada kota kecil ini. Aku yakin akan ada calon slacker di masa mendatang.





Leave a Reply